Goda-Gado dan Unag-Uneg

19 Februari, 2010

Kursi

Filed under: Uncategorized — palguno @ 9:55 PM

Waktu telah menunjukkan pukul 16.25. Stasiun Besar Tanah Abang tampak ramai seperti biasa, penumpang dengan tujuan Jabodetabek tampak mengantri di loket-loket yang tersedia. Lainnya yang telah mendapat tiket, menunggu sambil ngobrol, merokok, makan, minum, bahkan nonton televisi yang disediakan pihak stasiun. Begitulah kejadian sehari-hari yang penulis alami, mulai hari Senin hingga Jumat.

Di sela-sela keramaian suara para penumpang kereta, petugas stasiun secara berkala mengumumkan informasi kedatangan kereta. Hari itu diumumkan bahwa KRL Ekspres Pakuan tujuan Bogor akan mengalami keterlambatan. Yah seperti biasanya, sulit untuk mendapatkan kereta yang tiba tepat waktu. Pukul 16.52 petugas mengumumkan bahwa jalur 5 akan dipersiapkan masuk KRL Ekspres Pakuan yang seharusnya berangkat dari Stasiun Besar Tanah Abang pukul 16.43. Terlambat 15-20 menit itu sih biasa.

Benar saja, akibat kereta terlambat, penumpang menumpuk di peron jalur 5 dan berharap masih mendapatkan tempat duduk. Perlu diketahui, KRL Ekspres Pakuan pemberangkatan pukul 16.43 berasal dari Bogor, jadi ketika melalui Stasiun Sudirman sudah banyak penumpang yang naik lebih dulu. Begitulah kebiasaan para penumpang, siapa duluan naik, maka peluang dapat tempat duduk akan makin besar. Semuanya demi kenyamanan karena perjalanan Tanah Abang-Bogor secara normal akan ditempuh selama 1 jam 15 menit, jadi lumayan pegel juga kalau tidak bisa duduk. Namun banyak juga penumpang yang tidak kebagian tempat duduk membawa kursi lipat atau duduk lesehan menggunakan koran. SEKALI LAGI DEMI KENYAMANAN.

Ada kebiasaan unik bagi beberapa penumpang yang kebagian tempat duduk di kereta. Untuk menghindari perasaan tidak enak akibat ada ibu-ibu yang berdiri di dekatnya, si penumpang tersebut memejamkan mata, nggak tahu emang tidur atau pura-pura tidur. Harapannya karena tidur menjadi tidak tahu bahwa di dekatnya ada ibu-ibu yang tidak kebagian tempat duduk. SEKALI LAGI DEMI KENYAMANAN. Namun ada juga penumpang laki-laki yang sudah sempat duduk rela memberikan tempat duduknya kepada teman wanita yang dikenalnya. Itu karena dia kenal, kalau tidak kenal mungkin tidak akan rela memberikan kenyamanan yang sudah didapatkan.

Itu sedikit cerita tentang bagaimana posisi duduk yang nyaman dan jadi rebutan para penumpang KRL. Kenyamanan itu diperoleh karena bisa duduk di kursi kereta. Lalu bagaimana jika kursi itu lebih dari sekedar kursi kereta? Misalnya kursi di kabinet? Kabinet yang dimaksud adalah yang berisi para menteri saat ini. Ya, Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Tambahan Jilid II mengingatkan penulis pada serial silat karangan Kho Ping Ho yang tiap judulnya ditulis dalam beberapa jilid buku. Mungkin karena untuk mendapat kursi menteri, para politikus harus bertarung juga seperti para pesilat dalam cerita silat karangan Kho Ping Ho.

Lalu bagaimana jika sudah dapat kursi di kabinet? Yah tentunya orang yang duduk di kabinet harus rela bekerja demi rakyat karena mereka digaji oleh rakyat. Apakah benar begitu, jawabannya bisa ya bisa tidak. Silahka Anda menilai sendiri. Yang jelas seperti halnya kursi di kereta, duduk di kursi kabinet memang sangat nyaman, bahkan jauh lebih nyaman dari kursi kereta. Berikutnya apa syaratnya supaya bisa duduk di kursi kabinet dengan nyaman sampai di tempat tujuan, maksudnya sampai akhir masa jabatan yaitu 5 tahun. Jawabannya ya harus selalu bersikap baik kepada yang memberikan kursi, tidak lain dan tidak bukan dialah Presiden. Seperti cerita di KRL, kursi diberikan karena teman yang dikenal dan teman dianggap harus saling mendukung.

Lain lagi ceritanya bila setelah duduk kok dianggap tidak lagi bersikap sebagai teman. Atau yang lebih parah lagi, ada teman yang lain dianggap bersikap bandel sehingga berakibat pada teman yang duduk di kabinet. Sederhananya, kesempatan untuk duduk akan diganti oleh orang lain yang dianggap bisa diajak berteman. Nah kalau sudah begitu, tentu tidak mudah memberikan kursi pada orang lain. Akibatnya orang yang sudah duduk di kursi akan menasehati temannya yang lain agar jangan bandel. Tujuannya agar dia tidak harus memberikan kursinya pada orang lain, kursi kabinet lagi. SEKALI LAGI DEMI KENYAMANAN.

Seharusnya jika sikap bandel itu karena menyuarakan kebenaran, tidak usah takut akan kehilangan kursi. Masih banyak kok kursi yang lain, apalagi kursi yang dekat dengan masyarakat. Apalagi banyak masyarakat yang tidak perlu kursi agar nyaman alias mereka lebih suka duduk lesehan. Bukankah gaya lesehan ini juga ditiru oleh beberapa rumah makan mewah yang bergaya tradisional. Karena itu, tidak perlu takut kehilangan kursi, lesehan juga nyaman kok. Apalagi bila kita bisa berbagi kenyamanan dengan banyak orang menggunakan gaya lesehan tersebut.

Sebagai penutup, penulis ingat jaman kuliah dulu. Ketika beramai-ramai main ke tempat kost salah seorang teman, akibat kursi yang kurang tidak semuanya kebagian kursi. Salah seorang teman yang berasal dari Wonogiri suka berkata “yang duduk di kursi yang punya sapi”. Mungkin dari situ muncul istilah “Politik Dagang Sapi”. Mungkin karena dia punya sapi sehingga duduk di kursi, dan sapinya bisa diperdagangkan.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: