Goda-Gado dan Unag-Uneg

27 Februari, 2010

Teguran

Filed under: Uncategorized — palguno @ 11:10 PM

Mendengar kata teguran, melayang benak kita pada tindakan untuk mendisiplinkan seseorang. Itu salah satu fungsi teguran. Teguran biasanya dilakukan oleh orang yang kedudukannya lebih tinggi kepada orang yang kedudukannya lebih rendah. Itu bisa terjadi dari orang tua kepada anak, guru kepada murid, bos kepada anak buah, dan kakak kepada adik. Sifat teguran memiliki kekuatan yang lebih rendah daripada marah. Teguran lebih bersifat sebagai peringatan awal, biasanya akan berlanjut mejadi tindakan marah dan berakhir dengan hukuman bila teguran tindak diindahkan.

Lalu, apakah semua teguran itu bertujuan baik? Seharusnya memang begitu. Teguran dilakukan bila ada suatu tindakan yang dianggap tidak sesuai aturan, atau melenceng dari garis yang telah dibuat. Teguran juga akan membuat orang bertindak hati-hati, akibatnya kerja tim juga akan terjaga dan tercapai sasarannya. Kekuatan teguran yang lebih rendah daripada marah, berakibat kalimat dalam teguran itu lebih halus dibanding kemarahan.

Sekarang kita tarik tindakan teguran itu ke tingkatan yang lebih tinggi, di tingkat pemerintahan pusat misalnya. Di dalam tataran Pemerintah Pusat, kita mengenal Presiden beserta para pembantunya, yaitu menteri-menteri yang tergabung dalam kabinet. Presiden sebagai pemimpin para menteri, tentunya mengharapkan kerja para menteri akan selalu kompak, terarah, dan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Semuanya adalah pejabat negara yang digaji oleh negara untuk bekerja demi rakyat. Jadi tidak ada alasan untuk menolak bila dituntut kerja keras demi rakyat.

Sebagai pemimpin, Presiden tentunya harus selalu mengevaluasi kinerja para pembantunya, yaitu para menteri kabinet tersebut. Kinerja yang bagus patut mendapat penghargaan, kinerja yang jelek harus mendapat teguran. Nah, di sinilah muncul tindakan teguran, bukan marah. Bukan pada tempatnya bila seorang Presiden harus selalu marah, cukup dengan teguran saja. Masalahnya, kenapa teguran itu muncul? Ya itu tadi, karena ada pekerjaan yang tidak benar, maka dilakukan tindakan untuk membenarkan lewat teguran. Itu yang seharusnya terjadi, teguran muncul untuk mengembalikan tindakan ke arah yang benar.

Lain halnya bila teguran itu dilakukan sebagai intimidasi atau ancaman. Teguran yang seharusnya bersifat baik, begitu niatnya adalah untuk mengancam, maka sifat teguran itu menjadi tidak baik. Ancaman membuat orang tidak nyaman, membuat orang menjadi buruk kinerjanya, dan yang lebih buruk lagi bisa menimbulkan dendam. Akhirnya yang muncul saling mengancam karena dendam. Sikap negarawan yang baik tentunya tidak akan melakukan ancaman, namun lebih pada sikap saling membangun. Bila ada yang salah, ya diperingatkan. Bila yang diperingatkan melalui teguran tidak bisa menerima, ya ajaklah untuk berdialog secara baik. Adanya komunikasi akan menjamin penyelesaian masalah tanpa harus ada sikap saling mengancam.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah benar teguran itu bertujuan untuk saling mengingatkan, saling membangun, dan saling memberikan masukan demi kebaikan bersama. Demi rakyat tentunya. Kalau itu semua demi kebaikan, ya syukurlah. Tapi kalau teguran itu muncul karena dianggap ada orang yang membandel, yang kebetulan yang membandel itu orang di luar organisasi, kalau begitu ya bahaya donk akibatnya. Akibatnya bisa muncul saling mengancam, siapa kuat akan memberikan ancaman lebih besar dibanding yang kebetulan sedang ada pada posisi lebih lemah.

Dengan demikian, karena semua pejabat itu diberi amanat untuk bekerja demi rakyat, baik yang ada di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, maka boleh-boleh saja saling memberikan teguran bila ada yang tidak bekerja demi rakyat. Semua kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula. Menegur boleh-boleh saja, yang ditegur juga harus langsung menginstrospeksi diri.

Jadi, mohon maaf saja bila tulisan ini tidak enak dibaca. Anda sebagai pembaca boleh saja menegur saya, dan terima kasih bila teguran itu akan membuat tulisan berikutnya lebih baik.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: