Goda-Gado dan Unag-Uneg

11 April, 2010

Mafia

Filed under: Uncategorized — palguno @ 6:17 PM

Dalam Trilogi The God Father, Mario Puzo menggambarkan mafia sebagai sebuah keluarga di mana sang kepala keluarga sangat berkuasa. Dalam trilogi tersebut, diceritakan Michael Corleone mewarisi kekuasaan dari ayahnya sebagai kepala keluarga Corleone. Apapun yang diperintahkan oleh Michael selalu dituruti oleh anak buahnya, bahkan perintah untuk membunuh dilakukan tanpa membantah sedikitpun. Sebuah keluarga dengan kepala keluarga yang bertindak secara efektif demi melindungi kepentingan bisnis keluarganya.

Belakangan ini kita sering mendengar istilah mafia disebut dalam berbagai pemberitaan di media massa, baik cetak maupun elektronik. Saking banyaknya mafia di Indonesia, sampai-sampai salah satu televisi swasta di negeri ini pernah mengambil topik acara talkshow-nya dengan sebutan Indonesia Negeri Seribu Mafia. Bahkan, dalam acara tersebut salah satu narasumber secara kelakar menyebut sebetulnya lebih dari seribu, mungkin sejuta mafia. Itulah gambaran bahwa saking banyaknya sampai-sampai disebut “sejuta mafia”. Sangat fantastis jumlahnya, mungkin lebih banyak dibanding jumlah mafia di Sicilia.

Di sini sebutan mafia berkonotasi dengan sebuah organisasi untuk memanipulasi proses-proses hukum demi kepentingan pihak tertentu. Pelanggaran aturan dalam sisi manapun dilakukan oleh para mafia tersebut. Dikenal ada mafia hukum yang berperan membuat orang bersalah menjadi bebas dari hukuman, atau setidaknya dihukum namun ringan. Ada lagi mafia pajak, berperan membuat para wajib pajak bisa membayar pajak dengan nilai yang jauh lebih rendah dari yang sebenarnya. Mafia tenaga kerja, yang mengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri secara ilegal. Itulah sedikit contoh mafia Indonesia, masih banyak mafia lain yang bergerak dan bertindak secara ilegal, atau seolah-olah legal tanpa takut pada penegak hukum di negeri ini.

Untuk mengatasi para mafia ini, terutama di bidang hukum, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (Satgas Mafia Hukum). Tugasnya adalah untuk menghentikan praktik-praktik mafia di negeri ini. Pembentukan satgas ini mengingatkan pada film The Untouchable yang menceritakan Satgas bentukan Pemerintah Federal Amerika Serikat guna memerangi kejahatan terorganisir atau mafia di Kota Chicago. Masih dalam film tersebut, Satgas dipimpin oleh Eliot Ness, seorang penegak hukum federal yang tak bisa disuap. Hal ini karena sang penjahat yang bernama Al Capone digambarkan sedemikian berkuasanya sehingga para penegak hukum lokal bisa disuap. Keberhasilan Eliot Ness membekuk Al Capone hingga dijebloskan ke penjara Al Catraz tidak lepas dari keahliannya memilih anak buah yang juga anti menerima suap. Pesan moralnya adalah penegak hukum harus bertindak sesuai amanah yang diberikan untuk memerangi kejahatan, terutama jangan sampai bisa disuap oleh pihak jahat.

Dalam film mudah menggambarkan tokoh baik dan tokoh jahat secara hitam putih, namun dalam dunia nyata tokoh baik dan tokoh jahat sering tidak jelas batasannya. Di sinilah Satgas Mafia Hukum ditunggu hasilnya, apakah bisa memberantas para mafioso yang sudah sedemikan rapi cara kerjanya. Berbeda dengan Michael Corleone dan Al Capone yang anggota organisasi kejahatannya adalah memang para penjahat, sedangkan penegak hukum dan pejabat bukan anggotanya namun oknum yang bisa disuap agar melindungi kejahatan. Di Indonesia, anggota mafia justru oknum penegak hukum, oknum pejabat, dan oknum pegawai pemerintah yang seharusnya menjadi tokoh baik. Tentu jauh lebih sulit dibandingkan memberantas para mafia dalam film yang anggotanya memang para penjahat.

Sedikit ada titik cerah ketika ada yang berani bercerita tentang siapa saja para “tokoh baik” yang justru menjadi mafia. Maka dengan sedikit “nyanyian”, berguguranlah bintang-bintang. Bukan nyanyian anak-anak Bintang Kecil, namun nyanyian yang mengungkapkan serpak terjang para mafia di Indonesia. Satu orang tertangkap, orang lain menyusul, kemudian disusul lagi, lagi, dan lagi. Istilahnya dalam bahasa Jawa Ti-Ji-Ti-Beh (Mati Siji-Mati Kabeh: Mati Satu Mati Semua). Saking banyaknya nama-nama yang akhirnya muncul sebagai anggota mafia membuat banyak oknum pejabat yang tidak bisa tidur nyenyak. Karena, bisa saja sekarang si oknum tersebut masih bebas hari ini, tapi besok sudah masuk bui gara-gara namanya disebut oleh oknum lain yang kebetulan lebih dahulu ditangkap.

Apakah Satgas Mafia Hukum bisa bertindak seperti Eliot Ness ketika melawan Al Capone, kita tunggu saja. Negeri ini membutuhkan para penegak hukum dan pejabat yang memiliki hati nurani, di mana nuraninya diberikan demi kesejahteraan masyarakat.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: