Goda-Gado dan Unag-Uneg

17 Mei, 2010

Angka-angka, Mantra-mantra

Filed under: Uncategorized — palguno @ 10:21 AM

Sejak awal peradaban manusia, angka telah digunakan sebagai simbol dalam usaha manusia mencacah benda-benda di sekitarnya. Saat ini angka disimbolkan mulai dari 0 (nol) sampai dengan 9 (sembilan) yang digunakan di berbagai belahan dunia. Ilmu pengetahuan menggunakan angka-angka tersebut dalam menjelaskan keterangan-keterangan sehingga memudahkan orang mempelajarinya.

Fungsi angka untuk menjelaskan hasil pencacahan dan perhitungan kini mulai bertambah lagi dengan fungsinya untuk mempengaruhi orang. Mengapa angka bisa mempengaruhi orang? Itu semua tidak terlepas dari keistimewaan yang terkandung dalam angka itu sendiri. Kita mengenal angka nol yang identik dengan kondisi kosong atau tidak ada, angka negatif yang biasanya identik dengan kondisi yang tidak menguntungkan, angka besar dan kecil yang identik dengan sesuatu yang hebat dan kurang hebat. Bahkan banyak iklan produk perawatan tubuh khususnya wanita yang menggunakan angka kecil untuk menggambarkan tubuh yang ideal, kulit yang putih, dan bobot tubuh idaman.

Dalam dunia politik, fungsi angka untuk mempengaruhi orang atau warga negara sangat populer saat ini. Bahkan saking kuatnya pengaruh yang ditimbulkan oleh angka-angka, fungsinya bagaikan menyihir seseorang sehingga opini atau pendapatnya bisa diarahkan ke target tertentu. Kekuatan pengaruh angka-angka ini, tentunya dengan bumbu-bumbu keterangan atau penjelasan yang menyertainya, telah merubah angka-angka tersebut bangaikan mantra yang mampu menyihir seseorang.

Sebagai ilustrasi, saat ini beberapa daerah di negeri ini sedang melakukan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada). Dalam Pemilukada tersebut, banyak pasangan kandidat kepala daerah yang maju dengan berbagai klaim jumlah dukungan dari masyarakat. Tidak sedikit pasangan kandidat tersebut melakukan survei untuk mengetahui dukungan dari masyarakat. Bagi pasangan kandidat yang mendapat dukungan tinggi, maka hasil survei akan diungkapkan dalam kampanye dan diiklankan di berbagai media. Kebanggaan memperoleh angka survei dukungan yang tinggi akan digunakan untuk mempengaruhi para calon pemilih yang masih ragu-ragu. Dengan banyak argumen yang terkesan masuk akal, klaim dukungan berdasarkan survei akan digunakan sebagai “mantra” untuk mempengaruhi sikap calon pemilih. Bukankah orang biasanya cenderung memilih pasangan yang kelihatan akan menang karena disukai banyak calon pemilih berdasarkan survei? Saking kuatnya pengaruh angka hasil survei, mantra angka tersebut bisa menarik dukungan dengan cara yang terkesan jujur, ilmiah, dan masuk akal.

Tidak hanya calon kepala daerah atau calon pemimpin yang menggunakan angka-angka sebagai mantra. Para pejabat yang telah berkuasa juga sangat sering menggunakan angka-angka guna menjelaskan keberhasilannya dalam memimpin. Mantra-mantra tersebut terungkap dalam angka pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran yang turun, meningkatnya pendapatan daerah, rasio utang dan lain-lain yang ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik yang indah. Tampilan angka-angka yang berupa statistik merupakan bentuk klaim keberhasilan bagi pejabat yang bersangkutan.

Jadi di jaman modern ini, mantra-mantra untuk mempengaruhi masyarakat tidak lagi terucap dalam bentuk doa-doa dari seorang dukun. Mantra itu kini telah berubah menjadi deretan angka atau statistik beserta penjelasan ilmiahnya. Para dukun yang mengucapkan mantra adalah para ahli ekonomi, ahli politik, dan para pengamat yang memberikan argumen dari disiplin ilmu pengetahuan. Lalu kalau sebelumnya dukun melafalkan mantra di depan tungku bakaran kemenyan, sekarang tungku itu berubah menjadi komputer yang menampilan tabel dan grafik. Asap kemenyan yang dulunya berfungsi membawa ucapan doa atau mantra ke langit, sekarang juga telah berubah menjadi jaringan internet dan siaran media elektronik atau cetak yang penyebarannya ke seluruh penjuru dunia, melampaui jangkauan asap.

Memang angka-angka itu tidak salah untuk menjelaskan berbagai fenomena sosial, ekonomi, maupun politik asalkan jangan diiringi dengan kebohongan. Bagi kita, masyarakat yang menjadi konsumen angka-angka tersebut, jangan mudah terpengaruh. Kalau angka tersebut mengandung kebohongan, kita harus memiliki pengetahuan untuk menolaknya. Istilahnya, kalau angka itu dianggap sebagai mantra, maka angka yang mengandung kebohongan bisa diidentikkan dengan mantra ilmu hitam. Untuk menangkal ilmu hitam, kita juga harus punya mantra penangkal, yaitu pengetahuan yang cukup untuk melihat kebohongan di balik angka-angka tersebut.

“Mantra penangkal” yang paling mudah dipelajari untuk menangkal kebohongan dalam angka adalah kemampuan kita untuk bertanya “dari mana angka itu diperoleh?”. Sumber angka merupakan salah satu jaminan validitas dari angka itu sendiri. Tentunya masih banyak “mantra penangkal” lainnya yang harus dipelajari yaitu ilmu pengetahuan yang cukup terkait dengan angka tersebut. Intinya, jangan mudah terpengaruh oleh tampilan angka-angka hanya karena keindahan grafik atau tabelnya.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: