Goda-Gado dan Unag-Uneg

31 Mei, 2010

Memilih Pemimpin atau Memilih Pemimpi

Filed under: Uncategorized — palguno @ 9:00 AM

Hingar bingar Pemilukada terjadi di banyak tempat tahun 2010 ini. Dulu disebut Pilkada, namun mungkin karena sering singkatannya berubah menjadi Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung), maka sekarang diubah menjadi Pemilikada, itu mungkin. Pesta rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung merupakan buah dari reformasi di negeri ini. Rakyat yang dianggap sebagai pemilik negeri ini dianggap pula layak untuk memilih kepala daerahnya sendiri secara langsung. Itu semua dilandasi oleh semangat untuk memperoleh pemimpin yang berkualitas, sesuai pilihan rakyat, dan mau berjuang demi memajukan daerahnya.

Namun sayang sekali perhelatan besar untuk memilih kepala daerah itu sering diakhiri dengan bentrokan antar pendukung ketika perhitungan suara selesai dilakukan. Pasangan kandidat yang kalah bertindak seolah-olah dia dicurangi, sedangkan pendukungnya dengan beringas bertindak anarkis. Pengrusakan kantor pemerintah, mobil dinas, dan fasilitas umum lainnya banyak terjadi di daerah yang telah selesai melakukan pemungutan suara. Ironi memang melihat apa yang terjadi, keinginan untuk berdemokrasi ditutup dengan demonstrasi anarkis.

Pada masa kampanye, para pasangan kandidat kepala daerah mengucapkan janji yang muluk-muluk untuk memajukan daerahnya. Isu yang umum diusung oleh pasangan kandidat adalah ekonomi pro rakyat, menciptakan lapangan kerja, memberantas kemiskinan, memberikan pendidikan dan kesehatan murah/gratis, membangun infrastruktur, mengundang investor, serta membangun daerah demi kesejahteraan rakyat. Janji-janji mulia yang terdengar manis di telinga. Bahkan pada masa kampanye para kandidat tersebut berubah total menjadi orang-orang baik. Mereka rajin mengunjungi warga miskin, memberi bantuan untuk daerah bencana, rajin mengadakan acara keagamaan, bahkan ada yang betindak ekstrim misalnya mau makan nasi aking. Hebat sekali tindakan mereka, yang kerap kali dimuat di media massa.

Selain janji-janji mulia demi rakyat, mereka juga berikrar akan mengadakan Pemilukada secara jujur, bebas politik uang, dan pernyataan siap untuk kalah atau menang. Terkesan mereka adalah orang-orang bersifat ksatria, yang akan dengan besar hati menerima kekalahan, dan meraih kemenangan dengan cara jujur. Demi kemenangan, mereka melakukan kampanye di hadapan warga calon pemilihnya. Baliho, spanduk, poster, iklan di media massa, disebar di mana-mana. Itu semua demi memperoleh simpati warga calon pemilih, agar mereka memilihnya saat hari pemilihan. Uangpun mengalir seolah-olah tanpa batas. Kegiatan apapun dibiayai, semuanya karena ingin menarik suara pemilih.

Saat perhitungan suara selesai, semua yang terasa indah berubah menjadi kenyataan yang pahit. Pendukung kandidat yang kalah melakukan tindakan anarkis. Tuduhan meluncur yang sering tanpa disertai argumen kuat. Mulai dari penggelembungan suara, pemilih fiktif, suap, politik uang dan lain-lain ditimpakan kepada kandidat yang menang. Anehnya banyak tuduhan itu muncul dari mereka setelah dinyatakan tidak unggul.

Kalau memang ada kandidat yang tidak jujur, seharusnya tuduhan-tuduhan itu muncul tanpa menunggu kalah. Atau karena memang sebenarnya tidak ada yang jujur, maka siapapun yang kalah akan melakukan pembalasan. Sikap ksatria yang pada awalnya diucapkan, hilang begitu saja. Jalur hukum untuk menangani sengketa Pemilukada juga tidak dilakukan. Sekali lagi, mungkin karena bila lewat jalur hukum, kecurangan masing-masing pasangan kandidat akan terungkap semua.

Proses kampanye memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ditambah lagi dengan mimpi-mimpi para kandidat. Pengeluaran yang besar, mimpi yang tidak terwujud, utang di depan mata, tuntutan dari masa pendukungnya, bisa jadi merupakan pemicu yang membuat kandidat yang kalah untuk mengerahkan massa guna bertindak anarkis. Mimpi untuk berkuasa yang tidak terwujud merupakan pukulan telak. Motivasi kekuasaan inilah yang juga membuat kandidat yang menang juga akan lupa pada janjinya untuk bekerja demi rakyat. Bagai mimpi indah di saat tidur, ketika ada orang lain yang membangunkan dan membuyarkan impian tersebut, maka yang ada adalah marah.

Jadi sebetulnya Pemilukada itu berfungsi memilih PEMIMPIN atau PEMIMPI? Pemimpin diharapkan akan memajukan daerahnya, sedangkan Pemimpi hanya akan berjuang untuk dirinya sendiri, bukan mimpi untuk rakyatnya. Mimpi untuk sekedar berkuasa atau mimpi untuk korupsi, mudah-mudahan hilang dari benak calon kepala daerah. Jadilah Pemimpin yang baik, yang amanah, dan rela bekerja demi rakyat.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: