Goda-Gado dan Unag-Uneg

24 Juni, 2010

Disiplin

Filed under: Uncategorized — palguno @ 12:06 PM

Bagi penggemar sepak bola, ajang Piala Dunia Sepak Bola 2010 merupakan suatu peristiwa akbar yang telah lama ditunggu. Kesebelasan dari berbagai negara, dengan atributnya masing-masing berusaha unjuk kekuatan demi memperoleh gelar sebagai juara dunia sepak bola.

Kedisiplinan para pemain, sikap sportif, dan semangat untuk menang menjadikan permainan sepak bola yang indah. Didukung oleh ribuan pendukungnya, para atlet terbaik dari setiap negara membuktikan niat besarnya untuk bisa membawa piala kemenangan ke negaranya. Dari semua faktor, disiplin adalah kunci utama yang menjadikan permainan menjadi menarik. Disiplin pada aturan membuat permainan menjadi sportif, kalah menang itu resiko.

Bagaimana dengan Indonesia. Di Indonesia, sepak bola sebetulnya merupakan olah raga yang merakyat. Mulai dari desa sampai kota, anak kecil sampai orang dewasa, semua mengenal sepak bola. Lalu mengapa tim sepak bola kita tidak turut berlaga di ajang Piala Dunia. Jawabannya karena tim nasional kita tidak dianggap sebagai tim yang layak ikut Piala Dunia alias tim yang kalah.

Hingar bingar sepak bola Indonesia memang patut disayangkan. Hingar bingar sepak bola di negara kita sering dinodai dengan kerusuhan, permainan yang tidak jujur, ditambah kedisiplinan yang sangat rendah. Itulah yang membuat tim nasional kita belum dianggap layak berperan sebagai peserta Piala Dunia.

Bicara tentang kedisiplinan, sebetulnya banyak pihak yang terlibat. Tidak hanya pemain sepak bola yang tidak disiplin, para pejabat negeri ini juga tidak disiplin. Ditambah lagi rakyat negeri ini juga rendah kedisiplinannya. Akibat sikap disiplin yang rendah, bangsa kita sering dianggap sebagai bangsa yang tidak bisa tepat waktu. Selain tidak waktu, dampak tidak disiplin juga membuat bangsa kita dianggap tidak bisa melakukan budaya antri. Main serobot sana sini menjadi pandangan yang lumrah.

Para pejabat yang tidak disiplin terutama dalam pengelolaan anggaran negara mengakibatkan korupsi masih terus merajalela di negeri ini. Kebiasaan tidak tepat waktu dan menunda-nunda pekerjaan juga berakibat banyak proyek pembangunan yang tidak selesai sesuai jadwal, akibatnya anggaran membengkak. Sekali lagi pembengkakan anggaran juga mengakibatkan korupsi.

Budaya antri yang masih sulit dilakukan di negeri ini juga menimbulkan kebiasaan serobot sana sini. Akibat orang tidak mau mengantri, kebiasaan menyuap agar mendapat urutan pertama menjadi pilihan. Suap berarti juga korupsi. Jadi tidak disiplin, tidak tepat waktu, tidak bisa mengantri, semuanya berakibat pada praktek korupsi yang merugikan orang banyak.

Jadi, kuncinya adalah disiplin. Kalau mau maju, kita harus disiplin. Akibat disiplin kita bisa bekerja tepat waktu, antrian berjalan lancar, dan semua orang merasa senang.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: