Goda-Gado dan Unag-Uneg

30 Juni, 2010

Ke Mana Anggaran untuk Rakyat Miskin?

Filed under: Uncategorized — palguno @ 11:23 AM

Pagi hari ketika berangkat kerja, pemandangan rutin yang saya saksikan adalah deratan pengemis yang duduk dekat loket kereta api di stasiun Bogor. Dengan wajah memelas, para pengemis yang sebagian besar adalah para wanita tua tersebut memohon belas kasihan kepada para calon penumpang kereta. Suatu pemandangan yang sungguh mengenaskan di tengah-tengah hiruk pikuknya pembangunan di negeri ini.

Sesuai amanat konstitusi, konon katanya fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara. Namun kenapa masih banyak orang fakir miskin di negeri ini yang harus hidup dengan cara meminta-minta. Sebetulnya memang mereka yang senang hidup miskin atau negara yang lupa bahwa mereka adalah warga negara yang harus dibantu.

Jangan-jangan pengertian dipelihara adalah seperti misalnya orang memelihara binatang kesayangan yang selalu dirawat agar hidup apa adanya. Kalau pengertian dipelihara seperti itu berarti memang fakir miskin tetap dipertahankan supaya hidup seperti apa adanya, hidup tetap sebagai pengemis. Ah, tapi bukan itu pengertian dipelihara oleh negara, itu hanya olok-olok. Seharusnya fakir miskin dipelihara oleh negara agar hidup mereka ada yang menjamin dan tidak lagi menjadi pengemis.

Kalau dipikir-pikir, apakah negara ini memang kekurangan anggaran untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar agar hidup mereka lebih layak, tidak mengemis, bisa makan makanan bergizi, dan tidak tinggal di jalanan. Kekurangan anggaran sebetulnya tidak, buktinya negara dengan mudahnya bisa memberikan anggaran untuk membeli mobil mewah untuk pejabat, merenovasi rumah dinas anggota dewan, memberikan fasilitas mewah di kantor wakil rakyat, dan berbagai fasilitas mewah lainnya bagi para pembesar negeri ini.

Kalau negara bisa dengan mudah mengucurkan dana bagi para pejabat dan anggota dewan yang terhormat, mengapa untuk memberikan fasilitas bagi rakyat miskin terkesan sulit. Dengan alasan macam-macam, para anggota kabinet harus berdebat dengan para wakil rakyat ketika mengajukan anggaran bagi masyarakat miskin. Mulai dari listrik murah, subsidi BBM, sembako murah, dan lain-lain kebutuhan rakyat selalu diakhiri dengan kesimpulan bahwa itu semua membebani anggaran negara. Penolakan atau penundaan menjadi hal yang biasa ketika anggaran itu harus turun untuk rakyat.

Ironis memang kenyataan di negeri ini, tanpa ada perdebatan apapun, bahkan tanpa ada angin ribut, tiba-tiba dana pembelian mobil mewah cair. Biaya renovasi kantor dan tempat tinggal anggota dewan telah beredar, dan segala biaya kemewahan dengan mudah digulirkan.

Fasilitas umum, mulai dari angkutan umum yang tidak layak dan tidak terawat, menjadi satu-satunya “kemewahan” yang dengan terpaksa dinikmati rakyat negeri ini. Jauh dengan kondisi para pejabat negeri ini yang setiap hari bisa duduk dengan nyaman di mobil mereka yang adem karena penyejuk udara dan bau wangi parfum mobil.

Jadi, bagaimana negeri ini bisa maju bila dana untuk rakyat miskin, pembenahan fasilitas umum, dan jaminan sosial masih kalah dengan urusan pribadi para pejabat. Mudah-mudahan Tuhan membuka mata para pejabat negeri ini agar sadar bahwa mereka bisa hidup mewah karena rakyat negeri ini masih banyak yang hidup jauh dari layak. Amin.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: