Goda-Gado dan Unag-Uneg

13 Oktober, 2010

Tragedi Mie Instan

Filed under: Uncategorized — palguno @ 2:27 PM

Kabar mengejutkan, kalau memang bisa dibilang begitu, datang dari negeri seberang, Taiwan. Kabar tersebut adalah produk mie instan Indonesia di Taiwan ditarik dari peredaran karena dianggap mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan, terutama bahan pengawet.

Sebagai produk makanan instan atau siap saji, maka mie instan harus melalui tahap pengolahan dan pengawetan agar tahan lama. Selama dalam proses pengolahan dan pengawetan inilah bahan kimia pengawet ditambahkan selain bumbu-bumbu penyedap. Menurut aturan, bahan pengawet yang boleh ditambahkan dalam makanan adalah yang tidak membahayakan bagi kesehatan dan dalam takaran tertentu yang dibatasi.

Sebetulnya berbicara tentang makanan instan, saat ini jumlahnya sudah sangat banyak. Itu semua karena adanya kebutuhan masyarakat yang inginnya serba praktis dengan alasan kesibukan. Mie instan, ikan kalengan, kopi instan, dan banyak produk makanan lainnya sudah umum kita temui sehari-hari.

Khusus untuk mie instan, produk makanan ini memiliki kedudukan yang istimewa di sebagian masyarakat Indonesia. Karena kepraktisannya, tinggal direbus dengan bumbu yang sudah disediakan, siapapun bisa membuat mie siap saji dan siap santap. Ditambah lagi dengan harga yang terjangkau, mie instan telah menjadi idola di kalangan masyarakat golongan menengah ke bawah, termasuk anak-anak mahasiswa atau anak-anak kost. Makan mie menjadi wajib walaupun katanya kebanyakan makan mie membuat rambut jadi keriting, itu hanya gurauan.

Keistimewaan mie instan ini membuatnya menjadi makanan pokok setelah nasi. Bagi anak-anak kost yang harus berhemat maka mie instan adalah pilihan yang tepat. Murah dan praktis. Bahkan mie yang sebenarnya adalah karbohidrat seperti nasi tapi sering dijadikan lauk nasi ketika tidak ada pilihan lauk lain. Jadi makan karbohidrat lauk karbohidrat juga.

Selain anak kost, bagi masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan perkotaan, mie instan sering menjadi alternatif pengganti nasi. Nikmat memang rasanya makan mie meskipun tanpa tambahan lauk lain. Keistimewaan mie instan inilah yang juga membuat kelompok Padhyangan pernah menyebut dalam salah satu lagu plesetannya: “tiap hari makan mie, gimana gak kurang gizi, nasib anak kost…”.

Pedagang mie instan bisa banyak kita temui di pinggir-pinggir jalan, dengan berbagai menu. Ada mie plus telor, mie plus kornet, mie goreng, bahkan sampai ada akronim “internet” yang merupakan kependekan dari “indomie telor kornet”. Di sini berarti mie instan telah menjadi salah satu mata pencaharian andalan bagi sebagian masyarakat kita.

Kembali kepada adanya pengumuman kandungan berbahaya dalam mie instan Indonesia di Taiwan, sudah selayaknya pemerintah segera mengambil tindakan agar masyarakat bisa mengetahui informasi yang sebenarnya. Informasi yang paling penting adalah bagaimana status mie instan di Indonesia. Apakah harus ada penarikan produk mie instan dari pasaran atau tidak perlu karena dianggap masih aman.

Apapun kondisinya, memang produk makanan kemasan pasti mengandung bahan pengawet. Seberapa besar dampak mengkonsumsi makanan dengan bahan pengawet perlu dijelaskan kepada masyarakat. Bagaimanapun kalau sampai mie instan ditarik dari pasaran Indonesia, saya adalah salah satu orang yang akan merasa kehilangan. Semua ini karena saya juga merupakan konsumen mie instan yang setia.

Bagi saya, semua ini bisa disebut sebuah tragedi bila tidak ada mie instan di pasaran, alternatif lain mesti segera dipikirkan. Makanan praktis yang lezat dan murah mudah-mudahan tidak hilang di pasaran.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: