Goda-Gado dan Unag-Uneg

17 Maret, 2011

Big Village: Kampung Besar yang Kampungan

Filed under: Uncategorized — palguno @ 1:26 PM

Jakarta, ibukota Indonesia, kota metropolitan. Sebagai sebuah ibukota yang menyandang gelar kota metropolitan, otomatis Jakarta mendapatkan beban yang sangat berat. Pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pertumbuhan ekonomi, dan pusat keramaian. Dengan beragamnya penduduk Jakarta yang tinggi, maka Jakarta disebut sebagai Kampung Besar (Big Village).

Dengan segala atribut kebesarannya, sudah selayaknya Jakarta adalah sebuah kota yang nyaman untuk ditempati, tertib, bersih, dan rapih tata kotanya. Namun apa yang terjadi, kenyataannya sangat bertolak belakang dengan bayangan Jakarta sebagai ibukota negara dan kota metropolitan.

Jakarta, setiap hari macet, pengendara kendaraan bermotor tidak disiplin, saling serobot, angkutan umum yang ugal-ugalan, banyak terjadi kejahatan, polusi udara yang parah, sungai yang tercemar limbah, dan lain sebagainya yang tidak menyenangkan. Bahkan Jakarta yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kini makin sesak dengan hiruk pikuk penduduknya yang membludak.

Tatakota yang amburadul, fasilitas umum yang tidak terawat, sistem transportasi publik yang semrawut, itulah gambaran umum yang ada di Jakarta. Tambahan lagi, banjir selalu terjadi ketika musim hujan. Bahkan saat ini, meski hujan hanya sesaat, jalanan Jakarta akan segera tergenang air. Kemacetanpun jadi makin parah.

Kesenjangan pendapatan sangat tinggi, penduduk miskin dan sangat miskin banyak, namun di jalanan kita bisa melihat orang-orang mengendarai mobil mewah menghamburkan uang di pusat perbelanjaan. Itulah Jakarta, antara si miskin dan si kaya sangat mencolok penampilannya.

Para politisi dengan berbagai hiasan dan atribut mengatasnamakan rakyat bertebaran di Jakarta. Koruptor tiap hari muncul di media massa, bertebaran di belantara ibukota. Para pejabat yang lebih mementingkan dirinya, kelompoknya, parpolnya, juga tiap hari hilir mudik di Jakarta. Istana negara dengan segala kerepotannya berdiri megah di Jakarta, kerepotan hanya untuk membangun citra para penghuninya.

Itulah Jakarta, Kampung Besar yang dikelola dengan cara “kampungan”. Kampungan karena mental para pemimpinnya tidak disiplin, tidak merakyat, tidak toleran, dan berbagai atribut kampungan lainnya. Jadi, mau sampai kapan ibukota negara akan dikelola dengan cara “kampungan”.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: