Goda-Gado dan Unag-Uneg

3 Januari, 2013

2012 in review

Filed under: Uncategorized — palguno @ 8:43 AM

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The new Boeing 787 Dreamliner can carry about 250 passengers. This blog was viewed about 1.300 times in 2012. If it were a Dreamliner, it would take about 5 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Iklan

16 Februari, 2012

Partai Politik

Filed under: Uncategorized — palguno @ 10:24 AM
Tags: , ,

Pada saat mendengar istilah Partai Politik atau biasa disingkat dengan Parpol, apa yang terpikir pertama kali? Pemilu, bendera, kaos, sembako, atau kampanye? Yah, memang Parpol identik dengan itu semua. Namun apa sih sebenarnya lembaga yang bernama Parpol tersebut.

Parpol beranggotakan orang-orang yang konon katanya disebut para politisi. Mereka menjadi anggota Parpol dengan harapan kelak menjadi anggota DPR, DPRD, bupati, walikota, gubernur, dan presiden. Semuanya jabatan yang berkaitan dengan posisi kekuasaan, dan kekuasaan secara langsung berdampak pada bertambahnya kekayaan. Nah, jadi Parpol memiliki tujuan mencari ‘kekayaan’.

Sebenarnya Parpol memiliki peran apa di masyarakat? Peran memberikan pendidikan politik atau peran meningkatkan kesejahteraan? Sepertinya itu kok tidak terasa, hanya saat kampanye saja mereka aktif berkeliling menyampaikan visi misi partainya sambil bagi-bagi kaos, uang, dan sembako.

Saat kampanye, banyak anggota Parpol yang menjadi ‘orang baik’. Mereka suka berkeliling ke tempat-tempat kumuh, berdialog, bagi-bagi sembako, menyumbang fakir miskin, mengadakan kegiatan keagamaan, bahkan tidak sedikit anggota Parpol yang tampak bersedih bila ada masyarakat yang kesulitan. Saat ada bencana alam, apalagi pas sedang kampanye, Parpol berlomba-lomba menyumbang ke korban bencana. Bener nggak sih perannya sebaik itu?

Lalu, kalau Parpol memang jadi kendaraan untuk mengantarkan seseorang duduk di kursi kekuasaan, apakah wakil-wakil Parpol itu benar-benar bekerja untuk rakyat. Akhir-akhir ini banyak anggota Parpol atau pejabat yang didukung Parpol terseret kasus korupsi. Lalu bagaimana tanggung jawab Parpol tersebut, apakah mereka menjamin produk politisinya memang layak atau justru produk politisi yang bejat.

Istilahnya sebuah pabrik, barang yang diproduksi harus dijamin kualitasnya sesuai dengan yang tertera di labelnya. Kalau Parpol diibaratkan dengan pabrik, harusnya ada jaminan purna jual bila produknya cacat. Pabrik berani menjamin uang kembali atau ganti barang baru bila produknya cacat. Parpol juga harus berani demikian, bila para politisi yang dihasilkan ternyata cacat produksi, terlibat korupsi misalnya, yah mereka harusnya bertanggung jawab.

Pabrik yang banyak menghasilkan barang cacat bisa berhenti produksi, nah Parpol juga harus demikian. Artinya, bila banyak hasil produk politisinya yang cacat, sebaiknya berhenti beroperasi alias bubar. Jadi dengan demikian, kalau meniru tindakan pabrik, maka banyak Parpol yang bubar, atau bahkan semua Parpol di negeri ini bubar. Mungkin lebih baik begitu ya….?

Kenyataannya sebaliknya, bukan Parpol bubar, tapi malah banyak berdiri Parpol baru dengan nama-nama yang mentereng dan terkesan berjuang demi rakyat. Mulai dari nama sejahtera, republik, demokrasi, demokrat, rakyat, dan lain-lain yang bikin kita sulit untuk menghapal. Bahkan saking bingungnya, banyak parpol dengan nama mirip atau logo yang mirip, paling tidak sedikit modifikasi gambar atau perubahan warna.

Parpol dibiayai oleh anggotanya dengan sistem iuran, sebagian berasal dari donatur. Parpol juga mendapat dana dari pemerintah yang jumlahnya disesuaikan dengan perolehan suara. Dana operasional Parpol sangat besar, terutama untuk dana penggalangan dukungan massa. Besarnya dana operasional Parpol inilah yang membuat anggotanya bekerja keras mencari sumber pendanaan, dengan cara apapun, halal ataupun haram.

Jadi, apakah Parpol dengan segala produk cacatnya masih diperlukan di negeri ini? Mengapa pula sekarang banyak bakal calon kepala daerah yang maju dari jalur independen tanpa dukungan Parpol. Apakah mereka sudah tidak percaya lagi kepada Parpol. Jadi ibarat pabrik, kalau sudah banyak kegagalan perlu diganti mesin produksinya atau ditutup saja. Biarlah masyarakat yang menilai, karena masyarakat sekarang sudah cerdas dalam memilih wakil-wakilnya. Yang jelas, kepada para politisi, janganlah sekali-kali membohongi rakyat.

3 Januari, 2012

2011 in review

Filed under: Uncategorized — palguno @ 5:32 AM

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1.800 times in 2011. If it were a cable car, it would take about 30 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

5 Mei, 2011

Umum yang Tidak Umum

Filed under: Uncategorized — palguno @ 3:29 PM

Ketika melihat angkutan umum di negeri ini, selalu yang muncul adalah pertanyaan apakah angkutan umum tersebut dikelola dengan baik atau sengaja dibiarkan tak terawat? Seharusnya angkutan umum dikelola dengan baik sehingga bisa melayani masyarakat dengan nyaman, aman, dan tentu saja murah tapi tidak murahan.

Namun kenyataannya adalah kondisi angkutan umum sangat tidak layak, terutama kereta ekonomi yang melayani rute Jabodetabek. Dengan jumlah penumpang yang melimpah, kondisi KRL ekonomi benar-benar tidak manusiawi. Gerbong yang kotor, pengap, penuh sesak dengan penumpang pada jam-jam sibuk.

Sudah banyak pihak yang membahas tentang kondisi KRL ekonomi yang tidak layak. Mulai dari fasilitas tidak terawat, jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta yang tidak tepat, keamanan tidak terjamin, semua itu sudah sering dibahas. Namun entah pihak pengelola kereta api yang tidak pernah tahu, atau pura-pura tidak tahu, atau yang lebih parah sengaja menjadi tidak tahu, kritikan tentang kondisi KRL ekonomi itu tidak pernah menjadi perhatian.

Kita lihat, pagi hari ketika jam berangkat kerja dan sore hari ketika jam pulang kerja, penumpang KRL ekonomi berjubel dalam gerbong, tidak sedikit pula yang naik di atas gerbong. Keadaan ini akan makin bertambah parah bila ada jadwal keberangkatan kereta yang dibatalkan, otomatis penumpang dua kereta akan bergabung menjadi satu. Tidak jarang pula rangkaian KRL ekonomi hanya terdiri dari set alias hanya empat gerbong. Maka jadilah kumpulan penumpang makin dijejalkan dalam gerbong yang tersedia.

Heran sebetulnya bila melihat kondisi KRL ekonomi yang tidak membaik namun di satu sisi para pejabat dan wakil rakyat yang terhormat bisa menikmati fasilitas dengan penuh kemewahan dan kenyamanan. Sebetulnya mereka berpikir atau tidak? Atau memang pikiran mereka lebih diprioritaskan untuk mengamankan jabatan semata. Sudah bertahun-tahun kondisi KRL ekonomi di negeri ini tidak makin membaik, bahkan cenderung memburuk.

Sebagai angkutan umum, KRL ekonomi merupakan transportasi masal yang murah dan bebas macet. Murah seharusnya jangan menjadi murahan. Pemerintah mempunyai kewajiban untuk melayani rakyatnya agar bisa menikmati angkutan umum yang layak, murah, cepat, aman, dan nyaman. Begitu seharusnya angkutan umum masal. Sayang seribu kali sayang, angkutan umum menjadi tidak umum karena yang muncul adalah kondisi yang sumpek, tidak aman, dan lambat karena sering gangguan persinyalan.

Umumnya angkutan umum memberi kenyamanan bagi penumpangnya, namun memang angkutan umum di negeri memang tidak umum, artinya tidak baik. Atau memang yang umum di negeri ini adalah kondisi yang tidak baik?????

27 April, 2011

Ngurus Olah Raga, Tapi Tidak Sehat

Filed under: Uncategorized — palguno @ 12:34 PM

Konon katanya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Tubuh sehat, jiwa sehat, pikiran sehat, akibatnya segala tindakan yang dilakukanpun berdampak baik. Itu idealnya, jadi bila seorang manusia bisa sehat jiwa dan raga akan menghasilkan perilaku yang sehat pula. Individu sehat membuat masyarakat sehat, masyarakat sehat membuat negara sehat, negara sehat akan membuat negara kuat.

Olah raga bisa membuat badan sehat. Pengen sehat, maka berolahragalah, itu nasehat umum yang sering kita dengar. Jadi, siapapun yang berolah raga akan selalu terjaga kesehatan badannya, termasuk orang yang ngurusin olah, seharusnya lebih sehat lagi.

Badan sehat karena olah raga, badan sehat membuat jiwa sehat, ngurus olah raga juga membuat lebih sehat. Namun yang terjadi lain, maksudnya yang terjadi di negeri ini. Pekan ini kita dikejutkan dengan dugaan korupsi pembangunan wisma atlet Sea Games yang akan berlangsung di Palembang. Kasus ini melibatkan sekretaris Kementerian Pemuda dan Olah Raga.

Kementerian Pemuda dan Olah Raga yang salah satu tugasnya mengurusi olah raga di negeri ini harusnya berisi orang-orang sehat, terutama sehat jiwanya. Tapi yang terjadi malahan lain, kasus korupsi untuk sarana pendukung suatu kegiatan olah raga. Nah, ternyata olah raga di negeri ini diurus oleh oknum-oknum yang berjiwa tidak sehat.

Belum lama kita masih dijejali dengan pemberitaan kisruh di PSSI, sebuah organisasi yang mengurus sepak bola di negeri ini. Sekali lagi, olah raga dikelola oleh orang-orang yang tidak berjiwa sehat. PSSI jadi ajang perebutan kekuasaan, bukan menjadi organisasi yang menaungi kegiatan olah raga yang paling merakyat di negeri ini.

Sebetulnya apa yang terjadi di negeri ini? Apakah memang sudah tidak ada yang berjiwa sehat? Jawabannya masih banyak orang berjiwa sehat di negeri ini. Sayangnya justru orang-orang yang tidak berjiwa sehatlah yang muncul di depan mengelola negeri ini. Akibatnya sulit negeri ini untuk cepat menjadi negara maju. Ibarat orang sakit, sulit untuk bangun agar menjadi lebih baik.

Tawuran suporter sepak bola, perkelahian antar pemain sepak bola, prestasi olah raga yang tidak memuaskan, korupsi di kalangan pengurus organisasi olah raga, perebutan kekuasaan, itulah yang mewarnai dunia olah raga kita. Sekali lagi karena olah raga diurus oleh orang-orang tidak berjiwa sehat. Atau karena mereka memang tidak berjiwa sehat makanya jadi pengurus olah raga, harapannya agar sehat. Masalahnya bukan badan yang tidak sehat, tapi pikirannya memang sakit. Kalau yang sakit pikiran, olah raga sebaik apapun sulit untuk bisa menyembuhkannya.

Badan sakit bisa disembuhkan dengan olah raga. Pikiran sakit tidak sembuh dengan olah raga, apalagi jika melihat uang, pikiran yang sakit bisa tambah sakit. Akibatnya korupsi berkembang.

Jadi bila negara ini ingin maju, maka pejabat dan rakyatnya harus sehat, baik sehat raga maupun jiwa. Mulailah dari pemimpin tertinggi di negeri, berpikiran sehatlah. Sembuhkan para pejabat yang berpikiran tidak sehat, yang tidak bekerja untuk rakyatnya. Kalau tidak sembuh, ganti dengan yang sehat.

14 April, 2011

Dari Awalnya Emang Begitu

Filed under: Uncategorized — palguno @ 1:47 PM

Rame-rame bicara tentang DPR, rame-rame mengkritik kinerja DPR, rame-rame demo tentang perilaku anggota DPR. Semuanya rame-rame memberi nilai negatif kepada DPR. Apa sebenarnya yang terjadi dengan DPR.

Di tangan DPR sebetulnya masa depan negeri ini dipegang. Mereka mendapat titipan dari rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Mereka mendapat kepercayaan untuk menjalankan amanat dari rakyat. Rakyat Indonesia yang berjumlah 200 juta lebih mengandalkan kerja DPR demi majunya negeri ini.

Kenyataan yang terjadi jauh dari harapan. Kerja DPR banyak mendapat kritik. Mulai dari kebiasaannya yang tidak hadir dalam sidang, jalan-jalan keluar negeri, berantem dalam ruang sidang, tidur ketika sidang, sampai yang terbaru adalah ada anggota DPR yang sedang asyik menikmati video porno. Tidak kalah serunya lagi rencana pembangunan gedung baru.

Kerja DPR dianggap tidak memuaskan, namun fasilitas selalu meminta lebih. Apakah mereka lupa dengan janji-janji selama kampanye. Janji-janji manis untuk bekerja demi rakyat, meski ketika mereka terpilih, janji-janji itu tinggal kenangan. Mereka menjadi “amnesia” tentang janji-janji untuk bekerja demi rakyat.

Sebetulnya sudah tidak perlu lagi kita mempertanyakan tentang komitmen anggota dewan. Dari awal mungkin mereka tidak memprioritaskan bekerja demi rakyat. Biaya kampanye yang sangat besar, tidak jarang calon anggota DPR menjual habis harta bendanya, kalau perlu berhutang. Itu semua menunjukkan niat mereka untuk mencari untung yang sebesar-besarnya ketika terpilih sebagai anggota dewan, keuntungan untuk menggantikan biaya yang sudah terlanjur keluar.

Jadi, apa sebenarnya yang terjadi di dalam gedung DPR. Pikiran-pikiran untuk kenikmatan sendiri, fasilitas yang berlimpah, ruangan yang nyaman, kendaraan yang mewah, pakaian mentereng, itulah prioritasnya. Ibarat orang dagang, modal yang sudah dikeluarkan harus bisa diganti berlipat-lipat dalam bentuk uang maupun fasilitas.

Kembali lagi, tidak perlu meributkan tentang kinerja anggota dewan. Emang dari awalnya sudah begitu, prioritas bukan kerja demi rakyat, prioritas adalah bekerja untuk kenyamanan diri sendiri. Mudah-mudahan masih ada anggota dewan yang memprioritaskan kerja untuk rakyat.

17 Maret, 2011

Big Village: Kampung Besar yang Kampungan

Filed under: Uncategorized — palguno @ 1:26 PM

Jakarta, ibukota Indonesia, kota metropolitan. Sebagai sebuah ibukota yang menyandang gelar kota metropolitan, otomatis Jakarta mendapatkan beban yang sangat berat. Pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pertumbuhan ekonomi, dan pusat keramaian. Dengan beragamnya penduduk Jakarta yang tinggi, maka Jakarta disebut sebagai Kampung Besar (Big Village).

Dengan segala atribut kebesarannya, sudah selayaknya Jakarta adalah sebuah kota yang nyaman untuk ditempati, tertib, bersih, dan rapih tata kotanya. Namun apa yang terjadi, kenyataannya sangat bertolak belakang dengan bayangan Jakarta sebagai ibukota negara dan kota metropolitan.

Jakarta, setiap hari macet, pengendara kendaraan bermotor tidak disiplin, saling serobot, angkutan umum yang ugal-ugalan, banyak terjadi kejahatan, polusi udara yang parah, sungai yang tercemar limbah, dan lain sebagainya yang tidak menyenangkan. Bahkan Jakarta yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kini makin sesak dengan hiruk pikuk penduduknya yang membludak.

Tatakota yang amburadul, fasilitas umum yang tidak terawat, sistem transportasi publik yang semrawut, itulah gambaran umum yang ada di Jakarta. Tambahan lagi, banjir selalu terjadi ketika musim hujan. Bahkan saat ini, meski hujan hanya sesaat, jalanan Jakarta akan segera tergenang air. Kemacetanpun jadi makin parah.

Kesenjangan pendapatan sangat tinggi, penduduk miskin dan sangat miskin banyak, namun di jalanan kita bisa melihat orang-orang mengendarai mobil mewah menghamburkan uang di pusat perbelanjaan. Itulah Jakarta, antara si miskin dan si kaya sangat mencolok penampilannya.

Para politisi dengan berbagai hiasan dan atribut mengatasnamakan rakyat bertebaran di Jakarta. Koruptor tiap hari muncul di media massa, bertebaran di belantara ibukota. Para pejabat yang lebih mementingkan dirinya, kelompoknya, parpolnya, juga tiap hari hilir mudik di Jakarta. Istana negara dengan segala kerepotannya berdiri megah di Jakarta, kerepotan hanya untuk membangun citra para penghuninya.

Itulah Jakarta, Kampung Besar yang dikelola dengan cara “kampungan”. Kampungan karena mental para pemimpinnya tidak disiplin, tidak merakyat, tidak toleran, dan berbagai atribut kampungan lainnya. Jadi, mau sampai kapan ibukota negara akan dikelola dengan cara “kampungan”.

10 Maret, 2011

Kapan Donk Ngurus Rakyat?

Filed under: Uncategorized — palguno @ 2:03 PM

Pada awalnya hanya seorang anak biasa, kemudian dia mempunyai cita-cita. Cita-cita untuk menjadi pemimpin sebuah bangsa. Maka jadilah ia menjadi seorang Presiden, seorang Presiden di sebuah negara kepulauan bernama Indonesia. Sebuah negara dengan keragaman suku bangsa yang tinggi.

Presiden, yang dipilih langsung oleh rakyat. Presiden yang mendapat kepercayaan memimpin negara setelah era reformasi meski dia bukan yang pertama menjabat di era reformasi ini. Seorang Presiden yang sudah seharusnya mengabdikan dirinya untuk mengurusi rakyat, menjadi pelayan rakyat, menjadi pelindung rakyat, dan mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Dalam perjalanannya, banyak rintangan, banyak halangan, banyak tentangan, banyak kritik, dan banyak hal lagi yang tidak mengenakkan. Namun sebagai seorang pemimpin, apapun kesulitan yang muncul, jangan pernah menyerah dalam soal urusan rakyat. Menjadi pemimpin memang susah, kalau selalu mudah justru itu tidak normal.

Kesibukan mengurus rakyat harus menjadi prioritas. Namun apa kenyataannya, Sang Presiden sepertinya sibuk mengurus masalah pencitraan, ketakutan kehilangan dukungan partai politik, takut disebut tidak baik kinerjanya dan lain-lain tetek bengek. Bahkan yang lebih baru lagi adalah takut kehilangan dukungan koalisinya.

Seharusnya, karena dipilih langsung oleh rakyat, maka yang penting adalah dukungan dari rakyat dalam menjalankan tugasnya. Berbuatlah untuk rakyat, niscaya rakyat akan mendukung. Hukumlah aparat yang merugikan rakyat, niscaya rakyat akan mendukung. Lindungilah rakyat, berilah lapangan kerja kepada rakyat, pikirkanlah rakyat yang selama ini menderita, maka bantuan akan berdatangan dari rakyat.

Ketika seorang Presiden lebih sibuk dengan urusan dukung mendukung hanya dari segelintir orang di sekelilingnya, maka urusan rakyat menjadi agak terabaikan, atau bahkan justru sengaja diabaikan. Ragu-ragu atau bahkan tidak berani mengganti aparat pemerintah yang tidak bagus kinerjanya maka berakibat pada pemborosan keuangan negara. Lagi-lagi rakyat yang dirugikan.

Pilihlah pejabat berdasarkan alasan profesional dengan melihat kemampuannya, bukan berdasarkan alasan balas budi untuk bagi-bagi kursi jabatan. Ingatlah masih banyak rakyat yang belum bisa duduk tenang karena masih harus banting tulang mencari nafkah di tengah-tengah lapangan kerja yang sulit.

Jangan pernah hanya membanggakan angka-angka pertumbuhan ekonomi, peningkatan cadangan devisa, tingginya nilai ekspor dan segala macam angka yang memabukkan. Itu semua hanya statistik yang bila tidak hati-hati kita cermati bisa menimbulkan kebanggaan yang semu.

Pemerintah ada untuk melayani masyarakat, namun bila pemimpinnya sibuk mengurus citra dirinya sendiri, dukungan dirinya sendiri, lalu “kapan donk ngurus rakyat?”.

7 Maret, 2011

“Jangan Beda Pendapat karena Saya Tidak Suka”

Filed under: Uncategorized — palguno @ 9:58 AM

Indonesia, negeriku tercinta. Konon katanya didirikan dengan tetesan darah para pejuang yang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Indonesiaku, yang hijau, kaya sumberdaya alam, banyak penduduknya, beragam sukunya, dan subur tanahnya.

Indonesia, berdasarkan konstitusi adalah sebuah republik yang dipimpin oleh Presiden. Masih menurut konstitusi, Presiden dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh para menteri. Presiden beserta para menteri bertugas menjadi pengelola negara tercinta ini.

Indonesia, menganut sistem demokrasi. Dalam demokrasi kedaulatan berada di tangan rakyat. Rakyat yang berkuasa, namun melalui sistem perwakilan, yang di negara kita adalah MPR, DPR, dan DPD. Sehari-hari DPR lah yang bertugas mewakili rakyat. Jadi bila Presiden dan para menteri bertugas mengelola negara, maka DPR bertugas mengawasi jalannya tugas pengelolaan negara.

Pertama, menteri bertugas membantu presiden menjalankan pemerintahan. Sudah selayaknya jabatan menteri adalah jabatan khusus yang dipegang oleh orang khusus dengan kemampuan khusus pula. Khusus artinya ahli di bidangnya. Jadi menteri harus diisi oleh profesional yang bisa bekerja dengan baik, bukan diisi oleh orang karena pertimbangan balas budi.

Kedua, DPR adalah wakil rakyat, wakil 200 juta lebih rakyat Indonesia. Jadi anggota DPR adalah orang-orang luar biasa yang bisa menyuarakan suara 200 juta lebih rakyat Indonesia, lengkap dengan segala keragaman yang ada. Benar-benar luar biasa, satu orang anggota DPR bisa bersuara sebagai ribuan, bahkan jutaan orang. LUAR BIASA.

Namun apa yang terjadi. Hasil evaluasi kinerja menteri konon katanya banyak yang mengecewakana. Sebagai seorang profesional sudah selayaknya bisa bekerja dengan sangat baik, bila gagal harus introspeksi, kalau perlu mundur dan diganti dengan yang lebih ahli. Kenyataannya pergantian menteri lebih dipertimbangkan karena Parpol tempat asal menteri itu yang berbeda pendapat dengan “bosnya”. Biar jelek kinerjanya, asal masih jadi “anak yang patuh”, maka jabatan menteri aman.

Berikutnya, DPR yang bertugas mengontrol jalannya pemerintahan juga ternyata tidak boleh beda pendapat. Alasannya karena Parpol pengusungnya sudah memiliki keputusan sendiri, jadi anggotanya juga harus “manut”. Apalagi sekarang ada koalisi Parpol pendukung pemerintah, dimana seluruh anggotanya harus satu suara, satu suara yang selalu setuju dengan pemerintah. Jadi sebetulnya DPR itu wakil rakyat atau wakil Parpol, atau wakil koalisi?

Beda pendapat demi kebaikan itu sangat perlu. Namun bila ada beda pendapat terus ada pihak yang “ngambek”, lalu yang beda pendapat harus mendapat terguran, berikutnya negara ini hanya akan satu suara. Iya kalau satu suara itu baik, kalau tidak baik, rakyat pula yang kena ruginya.

Evaluasi kinerja selayaknya harus karena alasan profesional bukan masalah suka atau tidak suka. Wakil rakyat selayaknya mewakili suara rakyat, bukan suara Parpol atau suara koalisi. Itu kalau boleh saya usul.

Sebagai penutup, kesimpulannya adalah “Jangan Beda Pendapat karena Saya Tidak Suka”.

2 Maret, 2011

Kok bisa ya?

Filed under: Uncategorized — palguno @ 1:29 PM

PSSI kisruh, demo di mana-mana. Ada demo yang mendukung, ada demo yang menentang. Yang didukung tidak lain dan tidak bukan ya Ketua Umum PSSI yang sekarang, Nurdin Halid. Ada yang setuju Nurdin maju lagi jadi ketua umum, namun ada juga yang menentang pencalonan Nurdin.

Sebetulnya apa sih yang menarik di organisasi PSSI? Kok bisa Nurdin yang sudah dua kali menjabat sebagai ketua umum masih pengen maju lagi sebagai ketua umum periode berikutnya. Kok bisa juga dia mengklaim bahwa dia masih diinginkan menjadi ketua umum.

Katanya dalam undang-undang dasar tidak ada larangan buat siapa saja yang mau jadi ketua umum PSSI, meski dia pernah dipenjara. Bahkan katanya maju jadi bupati atau presiden boleh juga, meski pernah jadi terpidana. Aturan FIFA juga katanya tidak melarang.

Tapi, tak tahulah sebenarnya seperti apa aturannya. Yang jelas kok bisa seseorang begitu berat meninggalkan jabatannya sebagai ketua umum PSSI. Presiden aja sekarang hanya boleh menjabat dua kali.

Kok bisa ya? Ada apa sih di PSSI sehingga susah banget untuk mundur. Kok bisa ya?

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: